Menyelam ke Kebebasan: Dari Karyawati Jadi Ibu Rumah Tangga Penuh Waktu

Cerita tentang pengalaman berhenti bekerja di sebuah Bank BUMN dan memilih jadi Ibu Rumah Tangga. Berhenti bekerja itu menyengkan seperti merasakan kebebasan. Tapi....

SELF GROWTH

5/10/20262 min read

Selamat Tinggal Lelah

Ini kisah tentang saya yang merasa terjebak dalam rutinitas sehari-hari yang membosankan. Berangkat pagi-pagi buta, bersaing dengan mobil-mobil di jalan raya, dan kembali saat anak sudah tidur. Rasanya dulu ada pikiran begini, "Kok nyari uang gini-gini amat siy"

Ya, itu adalah kehidupan seorang karyawati sebuah Bank BUMN yang akhirnya sadar diri karena ketidak adilannya membagi waktu untuk mengabdi pada kantor dan mengabdi pada anaknya. Saya memutuskan resign setelah mendengar nasihat orang-orang yang bilang, sayanglah.... Nanti cupulah...Gak gaullah.... Gak berkembang loh kalo di rumah aja....

Tapi saya pikri gini : Anak ya anak gue. Kalo sakit, yang harus ijin ke kantor ya gue. Yang nungguin juga nggak elu.

Dan saya merasa, ini hidup saya. Sayalah yang paling bertanggung jawab. Jadi, semua nasiha itu seperti asap jet yang awalnya kelihatan lalu segera menghilang. Saya betulang mangajukan surat pengunduran diri. Ada rasa senag saat undur diri, dibuatin pesta perpisahan yang meriah bersama teman-teman karyawan di sebuah restoran mahal di daerah Jakarta Pusat oleh seorang nasabah inti hi hi hi

Setelah acara perpisahan malam itu lewat, resmilah saya menyandang gelar Full Ibu Rumah Tangga.

Keesokan harinya, nyantai nggak dandan dan sarapan di mobil lagi. Rasanya seperti menemukan makanan favorit di kulkas setelah sebulan berdiet. Ah, nikmatnya kebebasan!

Seberapa Lama Kebahagiaan Berhenti Kerja Bertahan?

Pengalaman saya, happy-nya berhenti kerja itu hanya selama sekitar tiga bulan. YSetelah itu ada rasa hampa ketika menatap saldo rekening bank yang semakin tipis. Iya, suisa uang gaji saya nyaris habis dipakai shoopping dan ngafe-ngafe he he he !

Meskipun terlepas dari rutinitas, banyak rasa aneh yang mulai muncul. Bahasa kerennya mungkin, saya kehilangan eksistensi diri. Saya merasa aneh kalau kerjaan sehari-hari hanya wara-wiri di mall dan cafe. Ketemu teman lama A, B, C ganti-ganti. Masa harus diulang terus ketemuannhya. Jangan-jangan mereka bosan juga. Sudah menambah aktifitas positif seperti pengajian dan baksos sana sini, masih ada waktu-waku kepala mulia mikir : "Emang gue mau sampe tua gini doang ?? " lLuntang lantung dengan status IRT yang kalau mau apa-apa, harus ngajuin proposal ke suaminya sambil harap-harap cemas karena seringkali yang terjadi, bukan dikasih tapi diceramahi "boros".

Uang di rekening bank lama-lama habis yang ternyata digerogoti biaya dan pajak bank. Bunganya kalah besar hahaha,,,ih miris pisan.

Kebebasan itu memang manis, tetapi dibaliknya ada tantangan yang perlu dihadapi. Lalu saya pun menyadari: untuk bisa berlama-lama menikmati kehidupan bebas ini, harus ada cara untuk menghasilkan uang tanpa harus bekerja di kantor. Apakah itu berarti kembali dengan baju formal dan sepatu hak tinggi? Mungkin nggak. Tapi, saatnya berpikir kreatif!--pasti ada sesuatu yang bisa saya kerjakan tanpa harus menggadaikan waktu dan tenaga saya untuk kantor milik orang lain. Saya nggak mau besarin bisnis orang, saya mau besarin bisnis saya sendiri meski itu katagori bisnis skala kecil. Tak mengapa, tapikan...bisnis saya sendiri.

Jadi, untuk kamu yang penasaran dengan rasa bebasnya berhenti jadi karyawan, ingatlah bahwa nggak semua hal itu seindah yang dibayangkan. Kebebasan itu indah, namun kebutuhan finansial selalu mengintai. Namun, jika kita bisa menemukan cara untuk mencintai kebebasan dan sekaligus menghasilkan uang, maka hidup ini akan menjadi petualangan seru yang tidak terlupakan!
Asalkan kreatif dan bersedia kerja keras, Insya Allah berhenti kerja bukan hal yang menakutkan.

Jadi, Apa Rasa Bebas Itu?

Setelah mengambil keputusan untuk berhenti kerja, saya merasa seperti memeluk kebebasan. Meski bangun tetap pagi karena sudah jadi ritme tubuh, tapi saya bukan bergegas mandi untuk berebut jalanan Jakarta yang macet. Saya menyiapkan sarapan, menemani anak sarapan dan mengantarnya ke sekolah. Ah, indahnya hidup !

Setalah anka di sekolah, saya bisa santai ngeteh sambil nonton berita. Sesekali koordinasi dengan mbak soal masakan dan urusan pekerjaan rumah tangga.

Nggak ada lagi yang namanya dandan di mobil saat macet, atau harus buru-buru sarapan dengan hanya satu suapan di lampu merah. Tau gak sis, itu bagi saya rasanya luar biasa!